Kamis, 14 Juli 2011

Guruku dan Pengabdiannya


Bagikan tulisan ini ..
Tulisan ini saya buat ketika mengikuti lomba penulisan blog yang diadakan oleh Telkom Indonesia. Sekitar tahun 2008 ketika saya kelas 2 SMA. Sosok guruku ibu Hamsinah yang merupakan salah satu pengajar di SD. Inpres Perumnas Antang II menjadi inspirasi dalam tulisan pada waktu itu. Keikhlasannya mengajar dan mengabdi sepantasnya menjadi panutan bagi guru lainnya.

Hingga sekarang beliau masih mengajar di SD. Inpres Perumnas Antang II dan seringkali saya menemuinya jika saya berada di Makassar. Sekarang saya sudah menjalani S1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Namun kisah ini selalu saya kenang dalam tulisan ini.

GURUKU DAN PENGABDIANNYA
Oleh : Achmad Zulfikar
SMAN 1 Makassar

Terkenang lima tahun yang lalu, guru kelas 6 SD ku ibu Hamsinah merangkap sebagai wali kelas ku kelas VI A. Tak terasa, kini aku telah menduduki bangku SMA kelas 2 di SMAN 1 Makassar. Tetapi, kenangan ibu tak pernah kulupakan selamanya.

Dimulai pada kesehariannya mengajar setiap hari di sekolahku SD INP Perumnas Antang II sebagai guru pengajar kelas VI A. Sehari-hari menghadapi murid-muridnya yang kadangkala nakalnya minta ampun tapi ada kalanya bersikap ramah dan sopan, kehidupan di sekolahku amatlah menarik. Dimulai dari hari pertama aku dan kawan-kawanku menduduki bangku kelas VI A. Kami bermain kapal-kapalan layaknya anak-anak. Lalu datanglah guru kami dengan baju coklatnya, rambutnya yang sebahu walaupun teracak-acak, dan lipsticknya yang merah. Ibu melihat perbuatan kami semua namun, guru kami hanya tersenyum kepada kami dan seraya berkata “Selamat Pagi Anak-anak !” lalu guruku duduk di kursinya membersihkan bangkunya yang berdebu. Hal tersebut masih berlangsung pada satu guru. Belum lagi, ketika pelajaran yang lain dalam setiap hari sekolah guru- guruku semua menjalaninya dengan tabah dan istiqamah.

Setiap hari sekolah ibu menempuh jarak dari sekolah ke rumahnya kira-kira 25 km, jarak yang cukup jauh yang harus ditempuh oleh guruku. Kita dapat membayangkan sekolah yang terletak di Antang dengan rumah guruku di Gowa amatlah jauh. Ketika saat itu, aku yang berumur 11 tahun berpikir betapa jauhnya guruku harus menempuh jarak dari sekolah ke rumahnya dalam setiap hari sekolah. Walaupun, pada kenyataannya di kelas kami kurang menghargai guru kami. Namun, ia hanya terus dan terus tersenyum kepada kami semua walaupun saya seperti dapat merasakan pilunya hati ketika hampir tak seorang pun memperhatikannya ketika ibu mengajar.

Hari demi hari, dilaluinya bagaikan air yang mengalir dari hulu ke muaranya, kisah sedih dan pilu kami rasakan bersama. Dalam suka maupun duka setiap harinya kita lalui, apakah hal itu gembira ataupun sedih. Akhirnya moment yang diadakan dua kali dalam tiap tingkatan diadakan, ketika tiba saat penerimaan LHBS semester kami hanya dapat berharap nilai yang bagus tetapi di lain sisi ibu menulis LHBS kami dengan ikhlas dan tabah. Tentunya, hatinya pun tak tega menulis nilai kami yang kurang bagus (bobrok) yang diberikan. Namun, itulah konsekuensi yang harus ditanggung ibu sebagai tenaga pengajar.

Capek, lelah, letih dan lesu pastilah amat dirasakan oleh ibu betapa jauh jarak yang harus ditempuhnya tidak sepadan dengan penghargaan yang kita berikan kepadanya. Namun, disamping itu di hati kecil kita pribadi pastilah menyesali perbuatan yang telah dilakukan. Namun , ibu tetap dengan senyumnya yang tulus dan tanpa beban. Walaupun ia masih terlihat berkeringat akibat terburu-buru berangkat dari rumahnya yang cukup jauh itu.

Akhinya, tibalah saat sebelum UAN, UAS, dan UP (Ujian Praktek). Guru kami mulai mengadakan bimbingan khusus buat murid-muridnya setiap hari tidak terkecuali Minggu, selama tiga bulan. Namun, ternyata pada kenyataannya sangat disayangkan honor yang diberi pada saat itu bagi setiap guru hanya Rp. 30.000,- . Dilihat dari nilainya pastilah amat sedikit. Apalagi pada saat itu KrisMon (Krisis Moneter) masih menggerogoti Indonesia. Namun, ibu tetap tabah dan mengajarkan ilmunya walaupun honor yang diberikan tidak sepadan dengan pengorbanan yang diberikannya kepada kami tetapi ibu tetap dengan senyumnya yang tulus.

Tibalah saat UAN, UAS, dan UP,jantung kami amat berdebar kencang ketika telah diumumkan ruangan kami masing-masing. Lalu, kami pun bersiap-siap untuk memasuki ruangan tersebut. Dengan bekal yang kami peroleh selama kurang lebih 6 tahun, saya dan kawan-kawan mulai duduk dan mendengarkan instruksi berita acara ujian. Pesan ibu yang senantiasa saya ingat adalah “Jangan Menyontek walaupun Soal sesulit apapun !” kata-kata ibu membekas pada diriku , sehingga pada saat ujian saya berjanji pada diri saya bahwa “ Saya tidak akan menyontek !” walaupun demikian saya melihat banyak teman-teman saya mendapat bantuan dari luar. Seandainya, ibu melihat ini semua pasti ibu amatlah sedih. Walaupun demikian ujian berjalan dengan lancar.

Hari-hari ujian kami lalui, setahap demi setahap menuju bangku SMP. Hiruk pikuk ujian mewarnai suasana yang hampir terasa hampa selama 2 minggu. Akhirnya, tiba saatnya hari terakhir ujian, kami masih merasa deg-degan dengan ujian kami sebelumnya yang belum diketahui hasilnya sedikit pun. Pada saat hari terakhir, setelah ujian kami langsung menemui ibu untuk berterima kasih atas pengorbanan yang telah diberikannya selama setahun ini. Walaupun, kami sekelas telah melalui 6 tahun bersama, tetapi ibu guru kelas VI kami adalah guru yang paling berkesan pada diri kami.

Akhirnya, tiba saat pembagian STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) dan STK (Surat Tanda Kelulusan). Hati kami berdegup kencang ketika menerima ijazah kami secara simbolis dari Bapak Kepala Sekolah. Ketika kulihat nilaiku yang bagus, saya langsung sujud syukur kehadirat Allah SWT atas kecerdasan yang diberikannya kepada ku. Saya lalu berlari ke dekapan ibuku lalu kuucapkan banyak terima kasih kepada ibu guru yang telah mengajarku terutama Ibu Hamsinah, kulihat ibu berlinang air mata melihat kelulusan kami semua. Ibu pasti mengingat hari-hari yang telah dilalui bersama kami di kelas VI A. Demikianlah, hari demi hari yang telah kami lalui bersama ibu guru kami yang telah mengajarkan dan mengorbankan waktu dan segala sesuatunya untuk membuat kami cerdas. TERIMA KASIH IBU GURUKU, PENGABDIAN YANG IBU LAKUKAN TIDAK LAH SIA-SIA KARENA KAMI AKAN MENJADI PENERUS GENERASI MENDATANG YANG BERGUNA BUAT NUSA DAN BANGSA.

Makassar, 9 April 2008
Tulisan ini Pernah Memenangkan
Lomba Blog Juara IV
"Untukmu Guruku " yang diadakan oleh Telkom Indonesia

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...