Rabu, 10 Agustus 2011

Bernostalgia dengan Sate Mase-Masea


Bagikan tulisan ini ..
Ujungpandang, 7 Agustus 2011

Tak terasa Ramadhan sudah memasuki hari ketujuh, saya sangat bersyukur karena sudah melewati beberapa Ramadhan ini dengan baik. Saya ingin menceritakan kisah-ku bernostalgia dengan Sate Mase - Masea yang berjualan di Jl. Bandang Makassar.

Sate ini menjadi primadona bagi para jamaah di Mesjid Raya. Selepas shalat maghrib sudah banyak jamaah yang menuju ke tempat ini untuk makan sate ayam maupun sate sapi. Sate Mase - Masea ini sudah terkenal sejak dulu, bahkan ibu saya masih ingat ketika ayah dari yang menjual sekarang menjajakan satenya dengan gerobak seadanya pada kisaran tahun 1988. Dan kini kembali saya bernostalgia dengan masa - masa yang telah lalu.

Dari kecil saya biasa diajak oleh ibu untuk menikmati sate disini, sekarang saya bernostalgia kembali dengan sate mase-masea ini. Setelah shalat Maghrib di Mesjid Raya saya memacu motor saya menuju tempat ini, sebenarnya bila diempuh dengan jalan kaki dari Mesjid Raya bisa juga, namun karena saya hendak menjemput ibu setelah dari makan sate jadinya saya bawa motor saja untuk efisiensi waktu.

Cuman 3 menit dari pelataran parkir Mesjid Raya saya sudah sampai di tempat makan sate mase-masea. Saya langsung menuju ke gerobaknya untuk memesan dengan logat khas Makassar,"Pak pesan ki satu porsi sate ayam ta'..". Bapak itupun mengiyakan dengan mengangguk pelan. Saya pun bertanya harga satenya seporsi,"Pak, ta' berapa mi sekarang satu porsi?". Bapaknya menjawab,"ta' tiga belas ribu mi dek satu porsi, adami itu lontong sama lima tusuk satenya". Karena masih rasa kurang saya pun menambah lima tusuk sate, karena disini satu tusuknya dua ribu rupiah, maka berarti saya nambah sepuluh ribu. Sehingga totalnya Rp.23.000.

Saya pun beranjak dari gerobaknya menuju ke meja yang telah disediakan, tak lama kemudian akhirnya pesanan saya datang. Seporsi lontong, dan 10 tusuk sate ayam siap untuk disantap. Lagi - lagi saya grogi untuk memotret gambar satenya, sambil celingak - celinguk kanan kiri saya pun akhirnya berhasil mengadabadikan foto satenya. Ini dia :


Foto Menu : Sate Mase - Masea + Lontong

Setelah dipotret tiba saatnya icip - icip satenya, rasanya masih sama dengan yang dulu. Dengan bumbu kacang kental, dengan daging ayam yang tebal disertai lontong dengan kekenyalan yang mantap. Rasanya kembali lagi bernostalgia dengan kuliner yang sering menemaniku disaat Ramadhan tahun - tahun lalu.

Lontongnya satu per satu saya makan, dan sate ayamnya pun turut ludes saya makan dengan lahap. Akhirnya setelah makan, saya pun menelepon ibu untuk menanyakan apakah ia sudah mau di jemput. Ternyata ibu juga memesan lima tusuk sate daging. Saya pun kembali ke gerobak untuk memesan sate daging tersebut dan kembali lagi ke tempat duduk.


Sate Mase - Masea Tampak Depan dari Arah Jalan

Setelah sate dan lontongnya benar - benar ludes, akhirnya saya ke gerobak lagi dan membayarkan Rp.35.000, karena saya beli lagi satu buah lontong kali ajah ibunda pengen. Di tempat parkir, saya sempat tanya - tanya dengan tukang parkir. Saya bertanya dengan logat Makassar, "Masih samakah kayak dulu waktunya mulai jualan sate ?". Si tukang parkir pun menjawab, "Iye, masih kayak dulu ji, bukanya 17.30 WITA - 24.00 WITA". Setelah berbincang - bincang saya pun membayar parkir kemudian langsung menuju ke tempat teman ibu untuk menjemputnya.

Di bagian akhir ini saya ingin berbagi informasi. Jadi Sate Mase-Masea ini pada pagi hari tidak buka karena toko Aneka Jaya Motor masih terbuka, sedangkan menurut penuturan tukang parkir, bahwa penjual sate buka mulai pukul 17.30 WITA. Kemudian jika anda ingin merasakan Sate Mase-Masea yang jualan pagi, mereka juga membuka cabang di Jl. G. Latimojong No. 90. Bila anda ingin mengontak sate ini cukup menghubungi 0411-3624919.

Demikian nostalgia saya dengan sate Mase-Masea, semoga anda menikmati tulisan saya ini. Sampai jumpa, wassalamu alaikum!

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...