Kamis, 25 Agustus 2011

Penukaran Uang Halal Kok !


Bagikan tulisan ini ..
Momen lebaran dan bagi-bagi duit menjadi tradisi yang tak terpisahkan di hari raya Idul Fitri. Namun sayangnya beberapa waktu belakangan ini tersiar kabar bahwa Jasa Penukaran Uang DIHARAMKAN. Nah loh, kok bisa ! Dari kabar ini banyak orang jadi ragu-ragu untuk menukarkan uangnya di bank.

Tenang saja ! Karena yang diharamkan itu setahu saya adalah jasa penukaran uang yang mengandung riba. Sedikit gambaran untuk perilaku riba, misalnya anda menukar uang 100ribu dengan pecahan 1rb rupiah, kemudian anda hanya diberi 90 lembar alias 90ribu yang berarti ada selisih 10rb sebagai uang jasa, maka transaksi demikian itu termasuk dalam kategori riba dan tentunya tidak dibolehkan oleh agama.

Transaksi riba seperti itu biasanya terjadi jika kita menukarkan uang pada calo atau badan-badang perbankan yang 'nakal', namun pada umumnya bank-bank itu jarang yang melakukan praktik riba secara terang-terangan seperti itu, tapi biasanya secara 'sembunyi-sembunyi'. Wallahu alam bissawab.

Ada lagi tambahan dari saya bahwa penukaran uang yang diharamkan itu uang yang didapat dari hasil korupsi atau uang yang diperoleh dengan cara tidak halal. Kalau uang yang hendak ditukarkan itu berasal dari hasil menjarah uang rakyat ataupun hasil judi. Maka tentu saja walaupun di tukarkan maka uang yang ia telah tukar kadar HARAM-nya tidak berkurang karena cara mendapatkan uang tersebut yang haram.

Dari penjelasan diatas anda tidak perlu ragu untuk menukarkan uang anda dengan uang pecahan kecil di bank-bank yang menukarkan uang. Karena transaksi yang menukarkan uang tanpa mengurangi nilainya berarti HALAL, terkecuali uang korupsi (sekali lagi saya tekankan).

***

Nah sekarang saya mau cerita pengalaman saya menukar uang di Bank Indonesia Makassar yang terletak di Jl. Jend. Sudirman No. 3. Hari itu tanggal 24 Agustus tepatnya hari Rabu, saya keluar dari rumah setelah shalat Dhuhur dan bermaksud untuk mentransfer uang di ATM, mengambil foto studio bareng teman SD dan menukarkan uang di BI.

Setelah selesai mentransfer uang di ATM, saya pun mendahulukan untuk pergi ke BI yang terletak di tengah kota Makassar, tepatnya bersebelahan dengan lapangan Karebosi dan juga bertetangga dengan Bosowa Tower. Sudah berpanas-panas pas sampai di BI saya 'dicegat' satpam, ternyata waktu layanan kas hanya sampai jam 12 siang. Pak satpam pun menyarankan untuk datang pagi-pagi esok hari. Akhirnya saya pun pulang dengan tangan hampa, dan singgah mengambil foto dan langsung pulang ke rumah.

Keesokan harinya saya berangkat dari rumah pukul 10 pagi dan bermaksud langsung meluncur ke BI, tapi rupanya ibu juga mau titip tukar uang dan akhirnya saya harus singgah ke ATM BCA di Pengayoman untuk mengambil uang.

Sesampainya di BCA Pengayoman saya pun masuk dan bertanya kepada satpam, apakah bisa tukar uang pecahan kecil disini. Satpamnya pun menjawab, "Bisa ji, langsung meki ke Teller". Saya pun berpikir, kalau bisa tukar uang disini kenapa harus jauh-jauh ke BI. Akhirnya saya pun mengambil duit di ATM, dan ikut mengantri di Teller.

Sampai di depan Teller saya dengan pede-nya menanyakan bisa tukar uang pecahan kecil dan mbaknya mengiyakan. Saya pun menyebutkan nominal yang akan saya tukarkan, ada 10rb-an, 5rb-an, 2rb-an, dan 1rb-an. Tapi kata mbaknya nominal 1rb dan 2rb-nya kosong. Jadi yang ada cuman 10rb dan 5rb. Saya pikir uangnya baru, tapi pas saya memastikan,"Mbak uangnya sortiran yah ?". Mbaknya menjawab,"Iya dik uang sortiran, tapi masih bagus ji tapi ada beberapa uang-nya lusuh".

Untuk meyakinkan, mbaknya mendekati laci dan mengeluarkan seratus lembar uang 10rb-an, dan memperlihatkannya kepada saya. Walaupun hanya melihat dari jauh, sepertinya uang 10rb-annya banyak yang lusuh sedangkan ibu saya maunya uang baru. Jadi saya pamit diri dan meninggalkan teller.

Saya lihat jam lewat hape sudah menunjukkan 11.00 WITA. Mengingat perkataan pak Satpam kemarin bahwa layanan kas tutup jam 12 siang, maka saya tetap memberanikan diri tancap gas ke BI. Kalau niat kita baik juga, toh nanti Allah SWT akan memberikan jalan.


Bank Indonesia Makassar Jl. Jend. Sudirman No. 3 Tampak Depan

Akhirnya sampai juga di BI, setelah parkir saya langsung naik masuk ke dalam kantornya, terlebih dahulu saya melewati body scan, kemudian saya bertanya ke satpamnya mengenai penukaran uang. Satpam tersebut pun langsung mengambilkan saya nomor antrian, dan tertera angka 370. Sedangkan orang yang dipanggil ketika saya datang baru orang ke 302.


Nasabah yang menunggu untuk menukarkan uang di Bank Indonesia Makassar.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.25 WITA, saya hanya bisa pasrah menunggu sambil harap-harap cemas (takut gak kebagian). Saya duduk bersebelahan dengan seorang bapak-bapak, kemudian dia bertanya,"Nomor berapa yang kita dapat ?", saya pun menjawab,"Nomor 370 pak, masih lama kodong".

Bapak itu pun mengambil kertas yang sepertinya sudah di remas-remas yang dia letakkan disamping kursinya. "Ini dek ada nomor yang lebih cepat!", kata bapaknya. Saya pun mengambil nomor yang diberikan bapaknya, ternyata nomor 343. Alhamdulillah akhirnya Allah SWT menggerakkan hati bapak ini untuk memberikan saya nomor ini. Saya pun seraya bertanya kepada bapaknya,"Pak, kita' nomor berapa?". Bapaknya menjawab,"Saya nomor 333 dek".

Ternyata bapaknya 10 nomor duluan dibanding saya. Terlihat orang yang datang semakin banyak, waktu sudah menunjukkan 11.35 WITA. Saya pun memperhatikan durasi rata-rata orang yang menukarkan uangnya di dalam box penukaran uang, ternyata tiap orang bisa menghabiskan 3 menit saat menukarkan uang.


Box Pelayanan Nasabah di Bank Indonesia Makassar.

Adapun di kantor BI Makassar lantai 1 ini terdapat 12 loket box, yang terdiri dari 5 loket penyetoran, 3 loket pembayaran, dan 4 loket penukaran. Namun untuk memenuhi kebutuhan penukaran uang menjelang Idul Fitri, maka 6 loket dibuka untuk penukaran uang, loket tersebut yakni, loket 7, 8, 9, 10, 11, dan 12.

Tengah melihat-lihat datangnya orang yang silih berganti, bapaknya mengingatkan kalau maksimal penukaran uang pecahan 1rb rupiah itu 300 lembar, yang berarti maksimal 300ribu untuk pecahan 1rb, selain itu penukarannya bebas. Tak lama kemudian akhirnya tiba giliran bapak itu. Sayangnya belum sempat kenal nama dengan bapak itu, tapi saya yakin Allah SWT yang menggerakkan hatinya untuk memberikan saya nomor itu ^_^.

Tak berselang lama dari bapak itu akhirnya giliran saya memasuki box penukaran uang, saya masuk ke box 10. Dalam box tersebut dibatasi kaca di kanan dan kiri kita, dan berhadapan dengan petugas di depannya. Saya pun mengeluarkan uang yang hendak ditukarkan, dan menghitung kembali uang tersebut hingga jumlahnya pas.


Uang 2rb-an segepok yang saya tukarkan.

Sebenarnya sih banyakan duit ibu yang saya tukarkan, sedangkan saya hanya menukarkan 100 lembar uang pecahan 2rb rupiah. Akhirnya petugas mendatangi saya dan menginstruksikan agar menulis nominal yang ingin ditukarkan di secarik kertas. Setelah mengisinya saya pun menyodorkan secarik kertas tersebut dan uang yang hendak di tukarkan.

Setelah itu saya diberikan amplop dengan logo BI untuk memasukkan uang yang telah saya tukarkan. Saya pun memasukkannya ke dalam tas dan meninggalkan box tersebut. Di depan pintu keluar saya sempat bertanya kepada satpam mengenai jam pelayanan kas di kantor BI Makassar ini. Ternyata untuk hari Senin - Kamis jam layanan kas 09.00 - 12.00 WITA sedangkan hari Jumat 09.00 - 11.30 WITA. Walaupun bulan Ramadhan, tetapi jam kas masih sama seperti hari biasanya.

Adapun pelayanan perbankan termasuk penukaran uang di Bank BI Makassar ini terakhir akan dilayani pada hari Jumat tanggal 26 Agustus 2011. Hal ini disebabkan layanan perbankan pada hari Sabtu libur, dan akan aktif kembali setelah Idul Fitri. Setelah menukar uang saya pun memacu motor dan kembali ke rumah.

Semoga informasi yang saya sajikan dan bagikan disini bermanfaat bagi anda, kalau ada yang ingin ditanyakan silahkan melalui kotak komentar yah !

6 komentar:

Andy mengatakan...

Setahu saya,tempat penukaran uang kan jenis & kegiatan jasa membantu jadi so pasti halal,masa iya apa2 disebut haram sama MUI :(
Mmapir gantian ya ke blog saya

I2-Harmony Admin mengatakan...

Kalo akadnya jual beli dan mengurangi nilai, bisa jadi haram. Kalo akadnya takaful, yaitu membantu orang memudahkan menukar uang bisa jadi halal. Yaitu dengan tidak mematok tarif sekian persen dari uang yang ditukarkan. Istilahnya cuma minta uang bensin ama ganti ngantri seikhlasnya. Di daerah saya ada yang seperti itu, justru malah rame. :D

Penukaran uang tidaklah sama dengan makelar tiket/karcis yg terbatas, karena kalo mau mereka bisa antri sendiri, sifatnya sukarela. :)

Achmad Zulfikar mengatakan...

@andy : seperti yang saya bilang diatas, sebenarnya sih pada intinya itu dari akad jual beli, apabila riba maka hukumnya haram :)

Achmad Zulfikar mengatakan...

@i2-harmony : tapi biasanya memang ada yang nadahin dulu gitu kan penukaran uangnya, kemudian yang datang bisa langsung tukar uang tapi sifatnya bukan titip menitip kayak di kampung mas :) kalau itu kan memang berhubungan langsung dengan bank terkait .. kalau praktiknya seperti menadah uang pecahan kecil kemudian membuka tempat penukaran dan mematok persenan dari jumlah nominal, sudah pasti kadar HARAM-nya karena masuk dalam kategori RIBA :)

Ami mengatakan...

Aku dapet gaji udah uang kecil gitu, udah tradisi jadi gak usah nuker-nuker.

Thatho Klaten mengatakan...

Kalau saya belum kepikiran nukarkan uang habis sistem gajiannya cash

Cerdas Terpelajar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...